Jakarta (KABARIN) - Dokter Spesialis Anak Subspesialis Nefrologi Rumah Sakit Pondok Indah, dr. Henny Adriani Puspitasari, Sp.A., Subsp.Nefro, mengingatkan bahwa bayi yang lahir prematur memiliki risiko lebih besar mengalami gangguan ginjal karena proses pembentukan organ tersebut belum selesai sepenuhnya saat kelahiran.
Dalam diskusi kesehatan ginjal di Jakarta, Jumat, Henny menjelaskan bahwa ginjal mulai berkembang sejak usia kehamilan delapan minggu dan umumnya baru mencapai tahap pembentukan sempurna pada usia kehamilan sekitar 36 minggu.
"Kita tahu bahwa ginjal itu juga terbentuk ada masanya. Dia terbentuk dari usia delapan minggu sampai 36 minggu kehamilan," kata Henny.
Menurut dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tersebut, kemajuan teknologi dan layanan kesehatan saat ini membuat semakin banyak bayi prematur maupun bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) mampu bertahan hidup hingga dewasa. Namun, kondisi itu juga menuntut perhatian lebih terhadap kesehatan ginjal mereka dalam jangka panjang.
Ia menjelaskan bahwa bayi yang lahir sebelum usia kehamilan 36 minggu berpotensi memiliki perkembangan ginjal yang belum optimal karena proses pembentukan organ tersebut masih berlangsung.
"Nah, kalau dia prematur berarti fungsi ginjalnya belum selesai pembentukannya," ujarnya.
Henny menuturkan bahwa ginjal tersusun atas jutaan nefron yang berfungsi menyaring darah dan membuang zat-zat sisa dari tubuh. Pada bayi prematur, jumlah nefron yang terbentuk berisiko lebih sedikit dibandingkan bayi yang lahir cukup bulan.
Kondisi tersebut dapat membuat ginjal bekerja lebih keras sepanjang hidup, sehingga meningkatkan risiko munculnya berbagai masalah kesehatan di kemudian hari, termasuk hipertensi dan penyakit ginjal kronik.
Selain bayi prematur, anak yang lahir dengan berat badan rendah juga memerlukan perhatian khusus karena memiliki faktor risiko yang serupa terhadap gangguan fungsi ginjal.
Karena itu, Henny mengimbau para orang tua untuk memantau tumbuh kembang anak secara rutin serta melakukan pemeriksaan kesehatan berkala, terutama bagi anak yang memiliki riwayat lahir prematur atau BBLR.
Menurut dia, upaya deteksi dini sangat penting karena gangguan ginjal pada anak sering kali tidak menunjukkan gejala yang spesifik pada tahap awal.
"Anak-anak dengan faktor risiko perlu dipantau lebih awal agar jika ada gangguan fungsi ginjal dapat diketahui dan ditangani sedini mungkin," kata Henny.
Editor: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Copyright © KABARIN 2026